Navigation: Halaman Utama Catatan NR
Catatan NR

TEATER 100 KURSI



Lalu, jarak pun hilang
Pemain dan penonton menyatu
Dalam sebuah peristiwa

Selanjutnya...
 

RUDJITO, SANG MAESTRO





Apa yang Anda ketahui tentang Rudjito?

Dia selalu siaga membantu tanpa diminta. Dan dia memiliki kemampuan membantu, bukan hanya dalam hal penataan artistik tapi juga dalam segala perkara artistik pemanggungan. Dia penasehat saya dalam banyak hal. 

Menurut Anda siapakah Rudjito itu?
Selanjutnya...
 

RENDRA





Pertamakali saya bertemu langsung dengan WS Rendra, terjadi pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan membawa oleh-oleh, yang bagi Teater Indonesia, boleh dibilang asing. Geger tentu saja. Goenawan Mohamad menyebutnya, ‘Teater Mini Kata’. Itulah latihan-latihan dasar teater, yang menjadi sangat menarik ketika dipertunjukkan. Memang minim kata, nyaris hanya terdiri dari gerak dan bunyi. Meski begitu, pementasannya penuh makna. 

Selanjutnya...
 

PSEUDO-TEATER





Kemarin, seorang tukang kritik bilang, saya mulai kehilangan humor. Kalah lucu. Pentas-pentas saya kian muram. Ekspresi pesimisme. Kurang greget, tidak menggigit, minim kritik. Lebih menyajikan keindahan, perenungan dan metafora. Dialog luber, dramatisasi mendominasi. Sedikit nian adegan kocak. Tak seperti kiprah pada tahun-tahun awal pembentukan. Sekedar catatan, usia kelompok teater yang saya dirikan, lebih dari 30 tahun. Sekitar 114 produksi sudah digelar di panggung dan televisi. 
Selanjutnya...
 

OH, CIREBON !





Bagi saya, Cirebon adalah tanah tumpah darah. Jika ada yang menanyakan asal-muasal, dengan bangga saya menjawab, “Saya dari Cirebon.” Setiap kali berseminar di luar negeri, saya selalu menyebut, “Saya orang Indonesia, asal Cirebon, itu kawasan di antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kami punya Bahasa Cerbon, yang berbeda dengan Bahasa Sunda dan Jawa.” 
Selanjutnya...
 

HARRY ROESLI TIDAK MATI




Dia kawan kerja yang menyenangkan, sahabat yang hangat dan bagi saya, saudara yang terbaik di dunia. Harry Roesli. Ya, dia. Totalitasnya patut diteladani. Kontribusinya tulus. Keikhlasannya dalam memberi selalu mengharukan. Dan humornya serasa tak kunjung habis. Demikian kenyataannya. Saya dan TEATER KOMA kehilangan. Dunia seni pertunjukan kehilangan. Terlalu cepat dia pergi. 

Kami bekerjasama sejak 1983. Produksi yang mempersatukan kami adalah Opera Ikan Asin atawa The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht. Sesudah itu, kami mengerjakan berturut-turut lakon Opera Salah Kaprah (The Comedy of Error) karya William Shakespeare, 1984. Opera Kecoa, 1985, lakon karya saya. Disusul Wanita-Wanita Parlemen (Women in Parliament) karya Aristophanes, 1986. Kemudian Opera Julini, 1986, juga tulisan saya. Dan Opera Para Binatang (Animal Farm) karya George Orwell, 1987. 
Selanjutnya...