Navigation: Halaman Utama Catatan NR Rudjito, Sang Maestro

RUDJITO, SANG MAESTRO





Apa yang Anda ketahui tentang Rudjito?

Dia selalu siaga membantu tanpa diminta. Dan dia memiliki kemampuan membantu, bukan hanya dalam hal penataan artistik tapi juga dalam segala perkara artistik pemanggungan. Dia penasehat saya dalam banyak hal. 

Menurut Anda siapakah Rudjito itu?

Dia sahabat, kakak, guru dan pemandu yang tak kenal lelah. Dia sumber informasi segala urusan artistik-teater, dan berbagai sisi kehidupan yang oleh saya kadang terlewatkan. Dia bisa diibaratkan api yang memberi daya hidup inspirasi-insiprasi. Kehadirannya, bisa membikin hati sejuk dan menambah keyakinan diri. Dia lebih sering memberikan nasehat lewat tindakan. Saya harus pandai-pandai menyerapnya. Kata-kata Rudjito senantiasa bersayap. Kadang sulit dipahami, tapi tentu saja bernas. Dia penyabar, tak kenal lelah. Seperti angin, dia datang dan pergi tak pernah jelas jadwalnya. Tapi dia selalu hadir tepat saat dibutuhkan. Dengan bijak dia memaksa saya tak lelah mengasah kecerdasan dan daya inisiatif. Dia mengamati perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, baik seni pentas rakyat, tradisi, maupun kontemporer. Dia hadir di mana-mana, hingga ke peloksok-peloksok, untuk berdialog dan bekerja. Dia memang guru, meski tak pernah menggurui. Dia empu.

Kapan pertama kali jumpa dengan Rudjito, waktu itu dia sebagai apa?

Dia senior saya di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia). Saya ketemu dia pertamakali di penghujung tahun 1968-an. Waktu itu, dia dikenal sebagai pelukis tanpa lukisan, dan sudah mengerjakan penataan artistik panggung berbagai pementasan di Jakarta.

Bagaimana perjalanan Rudjito dalam dunia pertunjukan?

Boleh dibilang, Rudjito adalah Bapak Penataan Artistik Pentas Indonesia. Dia menangani penataan pentas, hampir seluruh grup teater di Indonesia. Bengkel Teater Rendra, Teater Mandiri Putu Widjaja, Teater Kecil Arifin C. Noer, Teater Koma N. Riantiarno, mengawali kegiatan bersama dia. Rudjito juga pemandu artistik bagi hampir seluruh kelompok teater remaja, khususnya di Jakarta. Kepadanya orang teater sering bertanya. Pengetahuannya luas, bacaannya banyak, pengalamannya segudang. Dan dia tidak pelit berbagi ilmu pengetahuan. Dia menyukai anak-anak muda yang tak malu bertanya.


Konstribusi apa yang telah disumbangkan Rudjito terhadap perkembangan seni pemanggungan di Indonesia? Adakah kehadiran Rudjito dalam seni pertunjukan di Indonesia membawa genre atau gaya penataan baru? 

Ada masa-masa di mana bentuk pemanggungan Teater Indonesia menyiratkan apa yang diyakini Rudjito. Murah karena menggunakan bahan yang ada, minimalis, bermakna, memiliki kedalaman. Sederhana itu indah, demikian Rudjito sering bilang. Hitam itu indah. Kain plastik, memiliki kekayaan dan sanggup menyiratkan berbagai makna. Bambu bisa lentur jika diberi peran yang pas dan cocok. Tali, mampu mencipta berbagai imajinasi. Cahaya tidak perlu obral. Bisa selektif dan efektif. Kosong, memiliki berbagai kemungkinan penciptaan kekayaan imajinatif. Imajinasi perlu diberi ruang yang lebih luas. Apa yang hadir di atas pentas, sebaiknya bukan kelengkapan realistis yang diobral, seakan kepada audiens kita menyodorkan segala yang dibutuhkan di atas baki. Harus ada ruang yang bisa dibawa pulang, dan menjadi wacana atau pintu menuju diskusi personal. Sebuah upaya pencarian dari inti permasalahan yang memberi kemungkinan untuk lebih mengasah stamina dan daya hidup.

Saya menganggap, kehadiran Rudjito sangat berharga bagi Teater Indonesia yang hingga kini tetap saja miskin dalam berbagai hal. 

Apa yang khas dari Rudjito, baik ini secara personal maupun hasil karyanya menurut Anda?

Kosong itu kaya dan bermakna. Kita memulainya dari kosong. Dari kosong gerak kehidupan tercipta. Diam itu sunyi, tapi justru memiliki daya yang membuat kita lebih berbahagia. Bekerja adalah ibadah.

Rudjito, dianggap sebagai master penata panggung di Indonesia. Apakah Anda sepakat dengan pernyataan tersebut? Tolong dijelaskan.

Saya sangat sepakat. Penjelasan di atas, saya kira, cukup menyiratkannya.

Sebagai sutradara dan beberapa kali Anda pernah bekerja sama (sebutkan berapa kali dan dalam lakon apa), apa yang diberikan Rudjito terhadap sebuah lakon selain konsep penataan panggung?

Saya meminta bantuan Rudjito pada pentas pertama Teater Koma, Rumah Kertas, yang digelar di Teater Tertutup Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 2-3-4 Agustus 1977. Sejak itu dia menangani penataan artistik, skenografi, Teater Koma, antara lain, Maaf.Maaf.Maaf. (1978). J.J (1979). Kontes 1980, dan Opera Julini (1986). Dia juga konsultan artistik satu-satunya film layar lebar yang saya garap pada 1995, Cemeng 2005, The Last Primadonna. Dia penasehat spiritual saya, hingga akhir hayatnya. Dan dia salah satu pendiri Teater Koma. Ketika Rudjito meninggal dunia, saya sangat kehilangan. Kami semua kehilangan. 



Ceritakan pengalaman Anda bekerjasama dengan Rudjito.

Saya meminta bantuan dia untuk menangani artistik Rumah Kertas, 1977. Saya datang ke rumahnya di bilangan Menteng. Dia terbaring sakit, tapi sabar mendengarkan, tekun dan penuh perhatian. Saya menginginkan penataan artistik yang realistis. Saya bicara soal got, sungai kecil yang keruh, jembatan, gunungan sampah dan gubuk-gubuk perkampungan kumuh. Saya berharap, semua benda itu hadir di atas panggung, tapi bingung, karena tak tahu cara menangani set-dekor yang begitu ruwet. Dan biayanya, tentu mahal.

Usai saya menjelaskan, dia bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil kertas dan spidol warna-warni. Kesegaran telah dimilikinya kembali. Sakit lenyap. Dia sangat bersemangat. Dia membikin sketsa, mencoret-coret area pentas dan konsep cahaya (sketsa Rudjito itu masih saya simpan, menjadi dokumentasi yang sangat berharga). Tindakannya itu langsung menyadarkan saya, betapa imajinasi ternyata memiliki daya pukau yang luar biasa. Tak harus ada got, sungai kecil keruh, jembatan, gunung sampah, perkampungan kumuh dan benda-benda lain di atas pentas. Semua bisa berawal dari imajinasi. Permainan para aktor jadi primadona yang utama. Saya malu. Karena waktu itu, samasekali tak terpikirkan. Seketika, saya mengagumi Rudjito yang tetap mampu menghadirkan benda-benda yang saya inginkan, meski hanya dalam imajinasi. Konsep lampu yang dia cipta, sangat prima. Berhasil memberi penekanan pada peristiwa lakon dan suasananya. 

Sejak itu, jika saya meminta bantuan dia, saya hanya membicarakan apa yang ada di dalam benak. Impian, tematik, tujuan utama penggarapan pentas, goal dan harapan. Intinya, saya hanya mengungkap apa yang ingin saya ‘katakan’ lewat pentas. Dan dia selalu berhasil menafsir impian-impian saya dengan sangat indah serta bermakna.