Kegiatan TEATER KOMA diawali dengan dukungan Angkatan Pendiri/1977, yang terdiri dari 12 seniman. Sesudah itu, angkatan demi angkatan lahir. Yang paling bungsu, Angkatan X/2005. 

Tanpa gembar-gembor, tanpa publisitas yang provokatif, pada kenyataannya, TEATER KOMA telah banyak melahirkan aktor-aktris, sutradara, penulis drama, pemusik teater, desainer artistik, desainer pencahayaan, penata grafis, penata busana, penata rias dan rambut, penata teknik pentas, pimpinan panggung, dan pimpinan produksi. Keahlian mereka, kini dimanfaatkan secara optimal oleh para penggiat seni pertunjukan. Inilah anugerah yang patut disyukuri. Sumbangan berharga bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. 

Angkatan Pendiri/1977, sebagian besar memiliki pengalaman pentas sebelum bergabung dan mendirikan TEATER KOMA. Sandiwara pertama yang digelar, Rumah Kertas karya N. Riantiarno, jadi ajang yang mempersatukan visi dan impian bentuk yang kelak menjadi bentuk-biang (meski tetap ‘terbuka’ terhadap kemungkinan pengembangan). Yakni, bentuk yang coba mengadaptasi warna-lokal lalu mengawinkannya dengan teknik pentas teater-Barat. Drama musikal, menjadi bentuk yang diyakini bisa mewadahi keinginan itu. Kita tahu, seni pentas di berbagai daerah di Indonesia, memiliki tradisi gerak dan musik.

Pengetahuan seni pentas (juga sejarah teater dan sastra drama), mulai diajarkan kepada Angkatan II/1978, dan angkatan seterusnya. Berbagai tokoh, pakar di bidangnya, diundang datang untuk berbagi pengalaman dengan para calon seniman yang ikrar menjadi anggota TEATER KOMA. Selain pengetahuan teater, diprioritaskan bahan-bahan lain yang melengkapi. Antaranya; apresiasi psikologi, pengantar antropologi, sosiologi, senirupa, bahasa-sastra dan filsafat. Apresiasi Musik dan Tari, dipandu pakar, saat kelompok menggelar produksi.

Patut diakui, TEATER KOMA, bukan akademi atau lembaga pendidikan seni yang formal. Kelompok, hanya paguyuban atau semacam perkumpulan kesenian yang bahkan belum memiliki sistem penerimaan anggota baru. Maka tidak heran, jika semua pengetahuan seni teater, diserap secara acak dan tidak tersistem. Kurikulum dan silabus pun disusun hanya berdasar kebutuhan pementasan.

Sistem penerimaan calon anggota dan pembelajaran seni-teater, baru agak terkoordinasi pada Angkatan VIII/1994. Sejak 1994, tidak semua orang bisa menjadi calon anggota TEATER KOMA. Mulai ada seleksi, dipilih dari formulir pendaftaran/lamaran yang masuk. Tapi, yang terseleksi pun, masih harus menghadapi lagi beberapa wawancara khusus dan psikotes. Biasanya, dari sekitar 30 pelamar yang dipanggil, paling banyak hanya 17 calon yang diterima. 

Calon anggota wajib mengikuti pelatihan dasar teater selama satu semester, enam bulan. Tidak dipungut biaya sepeser pun. Meski sering kesulitan dalam pembiayaan pembelajaran, kelompok menyadari hal itu sebagai resiko tak terelakkan dari sebuah upaya ‘regenerasi’ yang swadaya. Meski begitu, ada biaya yang ditagih dari para calon anggota. Yakni; kedisiplinan, ketekunan dan tahan banting. Ikrar menjadi anggota TEATER KOMA, bukan tindakan main-main. Ikrar ibarat janji. Dan janji harus ditepati, apa pun resikonya.

Sesuai tradisi, calon anggota tidak dilibatkan dalam produksi yang tengah digelar kelompok. Tugas mereka hanya belajar. Jika dilibatkan pun, paling bekerja di belakang panggung. Setelah satu atau dua tahun, ‘angkatan baru’ diuji dalam sebuah pementasan. Inilah yang kemudian dianggap sebagai jembatan menuju jenjang ‘kelulusan’ mereka sebagai anggota TEATER KOMA. 

Angkatan IV/1980, diuji dalam Opera Ikan Asin, 1983. Angkatan V/1984, diuji dalam pagelaran Opera Kecoa, 1985. Angkatan VI/1989 dan VII/1990, diuji dalam Suksesi, 1990. Angkatan VIII/1994, diuji dalam Semar Gugat, 1995. Dan Angkatan IX/2000, diuji dalam Republik Togog, 2004. Mereka dianggap ‘lulus’ secara memuaskan. Sesudah ‘lulus’, mereka tidak lagi hanya bertanggungjawab kepada kelompok, tapi sekaligus juga bertanggungjawab kepada masyarakat.

Sejak 1977, setiap tahun TEATER KOMA menerima anggota baru. Angkatan II diterima pada 1978 dan Angkatan III, 1979. Idealnya, memang begitu. Tapi, sesudah 1979, penerimaan anggota baru tidak lagi dilakukan setahun sekali. Sejak Angkatan IV/1980, jarak waktu masing-masing angkatan, sekitar empat atau lima tahun. Meski begitu, penerimaan ‘angkatan baru’ tetap dilakukan pada awal bulan Maret, sesuai saat kelahiran TEATER KOMA, 1 Maret 1977.

Jarak waktu yang panjang, dikarenakan oleh berbagai hal. Upaya regenerasi yang swadaya, menyebabkan biaya pembelajaran menjadi salah satu kendala. Juga dibutuhkan konsentrasi pembelajaran dan pelatihan yang terpadu agar angkatan baru bisa hadir lebih matang, dengan dasar yang lebih kuat. Waktu setahun, terlalu pendek untuk mempersiapkan lahirnya seniman teater. 

Kini, Angkatan IX/2000 kembali diuji dalam Sampek Engtay 2005. Mereka bekerja bahu-membahu dengan adik-adiknya, Angkatan X/2005. Budi Sobar, Edi Sutarto dan Sari Madjid -- mentor angkatan paling bungsu -- menjamin ‘anak didiknya’ mampu menjalani ujian lewat pementasan ini dan akan menyajikan tontonan yang sama menarik dengan Sampek Engtay sebelumnya.  

Regenerasi, hal yang niscaya. Mustahil dihindari. Para senior TEATER KOMA, kini telah melewati usia 40 bahkan 50 tahun. Mengingat hal tersebut, kini, TEATER KOMA juga menyelenggarakan kegiatan Workshop Teater Bagi Pelajar SMU, sebulan sekali, selama dua hari. SAMA SEKALI TAK DIPUNGUT BAYARAN alias GRATIS. Kegiatan Workshop Teater Bagi Pelajar SMU, dimulai November 2005. Para peserta setiap workshop, dibatasi hanya sekitar 30 siswa.
 
Pelajar SMU, bisa mendaftar dan menjadi wakil dari sekolah masing-masing. Tentu atas seizin guru dan orangtua. Dari setiap sekolah, hanya akan dipilih paling banyak 3 peserta saja. Sehingga, diharapkan, setiap workshop akan diikuti oleh sekitar sepuluh atau duabelas sekolah. Yang tidak terpilih, jika masih berminat, boleh mendaftar ulang untuk workshop berikutnya. 

Rencana jangka panjang Workshop Teater Bagi Pelajar SMU, adalah; dalam setahun, akan digelar 10 kali workshop. Jadi, penyelenggaraannya hampir setiap bulan, kecuali Mei dan Desember. Workshop diselenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu, sejak pukul 10.00 hingga 17.00, dengan jeda 60 menit untuk makan siang. Peserta workshop paling berbakat, sekitar 3 siswa, akan diberi peluang mengikuti ‘Pelatihan Lanjutan’ selama empat bulan. Ujung dari ‘Pelatihan Lanjutan’, insya Allah, adalah sebuah pementasan panggung. 

Tak ada niat samasekali untuk mencetak para peserta workshop agar menjadi seniman teater. Meski, di masa depan, hal itu bukan sesuatu yang tak mungkin. Niat utama hanyalah keinginan menyebarluaskan pengetahuan dasar teater yang benar, baik dan indah, sebagai upaya lahirnya sebuah apresiasi. Sehingga, diharapkan, mereka tidak lagi memandang teater sebagai dunia yang aneh, asing serta musykil. Jangan lupa, di masa depan, mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa. Semangat workshop yang dipatok adalah ‘kegembiraan menyerap pengetahuan dasar teater’ dengan ‘toleransi dan saling menghargai’.  

Sesungguhnya, hasil dari kegiatan apa pun, hanya bukti yang sementara saja sifatnya. Tekad, ketekunan, kerjakeras dan upaya pewujudan impian anak-anak muda yang ingin mengungkap jatidiri lewat teater, adalah hal yang lebih patut dihargai. Kepada siapakah, perkembangan teater Indonesia di masa depan bergantung, jika bukan kepada anak-anak muda itu? 

Regenerasi teater sudah tentu harus menyentuh berbagai bidang. Bukan hanya wilayah keaktoran saja yang perlu digarap. Teater membutuhkan penonton, dramaturg, sutradara, kritikus, pemikir, penulis, pekerja panggung, manajemen pengelolaan, penyandang dana dan wadah pementasan. Semua unsur itu seharusnya merupakan kekuatan-kekuatan yang menyatu dan sinergis. Satu hal yang juga tak kurang pentingnya, adalah, teater membutuhkan ruang gerak yang sepadan tanpa kecurigaan. Hal itu penting bagi pengembangan imajinasi kreatif dan kemungkinan lahirnya berbagai inovasi. 

Waktu masih panjang. Perjalanan masih sangat jauh. Regenerasi hanya salah satu upaya. Dan, tentu, sulit berjalan baik tanpa didukung masyarakat. Ya, dari Andalah dukungan diharapkan.